Transisi seringkali terabaikan, padahal ia memberi kesempatan untuk mengatur ulang fokus. Membuat jeda singkat antara aktivitas membantu menutup satu bab dan membuka yang lain dengan lebih sadar.
Beri tanda visual atau fisik untuk transisi: menutup buku, merapikan meja, atau berdiri sebentar melakukan peregangan ringan. Tanda-tanda ini melatih otak mengenali peralihan sehingga perhatian tidak terbawa berlanjut tanpa henti.
Gunakan waktu transisi untuk mengecek tujuan singkat: apa satu hal penting yang ingin diselesaikan pada sesi berikutnya. Pertanyaan sederhana ini membantu prioritas tetap jelas dan mengurangi perasaan kewalahan.
Atur lingkungan agar transisi lebih mudah dilakukan, misalnya area khusus untuk pekerjaan atau sudut tenang untuk jeda. Ruang yang konsisten memudahkan kebiasaan baru menempel.
Jika sering berpindah antar tugas, tetapkan durasi jeda yang realistis, seperti satu sampai dua menit untuk menutup perangkat atau menyusun ulang. Jadikan itu rutinitas kecil yang menghubungkan aktivitas tanpa menambah beban.
Akhirnya, perlakukan jeda sebagai kesempatan untuk hadir, bukan tugas tambahan. Pendekatan ini membuat hari berjalan lebih lancar dan memberi rasa kontrol yang lembut atas ritme aktivitas.
